Tampilkan postingan dengan label Aneka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aneka. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juli 2017

Sabda Palon dengan Tanah Jawa



Siapakah Sabda Palon Itu ?

Sabdapalon adalah pandita dan penasehat Brawijaya V, penguasa terakhir yang beragama Hindu dari kerajaan Majapahit di Jawa (memerintah tahun 1453 – 1478 )

Tidak diketahui apakah tokoh ini benar-benar ada, namun namanya disebut-sebut dalam Serat Darmagandhul, suatu tembang macapat kesusastraan Jawa Baru berbahasa Jawa ngoko. Dalam Serat tersebut, disebutkan bahwa Sabdapalon tidak bisa menerima sewaktu Brawijaya digulingkan pada tahun 1478 oleh tentara Demak dengan bantuan dari Walisongo (walaupun pada umumnya dalam sumber-sumber sejarah dinyatakan bahwa Brawijaya digulingkan oleh Girindrawardhana).
Ia lalu bersumpah akan kembali setelah 500 tahun, saat korupsi merajalela dan bencana melanda, untuk menyapu Islam dari Jawa dan mengembalikan kejayaan agama dan kebudayaan Hindu (dalam Darmagandhul, agama orang Jawa disebut agama Buda). Serat Damarwulan dan Serat Blambangan juga mengisahkan tokoh ini.

Pada tahun 1978, Gunung Semeru meletus dan membuat sebagian orang percaya atas ramalan Sabdapalon tersebut. Tokoh Sabdapalon dihormati di kalangan revivalis Hindu di Jawa serta di kalangan aliran tertentu penghayat kejawen. Patung untuk menghormatinya dapat dijumpai di Candi Ceto, Jawa Tengah. Sabdapalon seringkali dikaitkan dengan satu tokoh lain, Nayagenggong, sesama penasehat Brawijaya V. Sebenarnya tidak jelas apakah kedua tokoh ini orang yang sama atau berbeda. Ada yang berpendapat bahwa keduanya merupakan penggambaran dua pribadi yang berbeda pada satu tokoh. Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha).

Dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo (1135–1157) Sabda Palon juga disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra (berhubungan dengan ramalan joyoboyo). Berikut isinya :

…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.
    Artinya : …..; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tri tunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti.

    Artinya : menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi.
Mitologi Sabda Palon Titisan Shang Hyang Bhatara Ismaya
Selanjutnya, Sabda Palon lebih di kenal dengan sebutan Mbah Semar (Punokawan).
Mitologi Sabda Palon Titisan Shang Hyang Bhatara Ismaya
Mitologi ini sebenarnya memiliki makna bahwa para penguasa yang diasuh (dimong) Sabda Palon itu merupakan penguasa yang memiliki “kedaulatan spiritual”, yaitu penguasa yang Agung Binathara. Penguasa yang dipatuhi oleh seluruh rakyatnya dan disegani oleh penguasa-penguasa negara lain.

Cerita yang banyak diyakini oleh para ahli kebatinan, tugas Sabda Palon terakhir adalah ngemong Prabu Brawijaya di Majapahit. Sabda Palon memilih berpisah dengan momongannya, karena Prabu Brawijaya pindah agama, dari Agama Siwa-Buddha (campuran Jawa-Hindu-Buddha) menjadi Islam yang datang dari Arab.

Dengan begitu, Prabu Brawijaya dianggap telah kehilangan kedaulatan spiritual-nya. Sabda Palon memilih mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai pamong raja kemudian bertapa tidur di pusat kawah Gunung Merapi selama 500 tahun.
Selama Sabda Palon bertapa itu, tanah Jawa tidak akan memiliki kedaulatan lagi, serta tidak dihormati oleh bangsa-bangsa lain. Terbukti, bahwa sejak jaman Demak hingga Mataram Islam, para Sultan-nya perlu memohon legitimasi kekuasaannya kepada ulama Mekah, sedang para Sultan dari wilayah Sumatera dan Banten serta banyak lagi dari Indonesia Timur, memohon legitimasinya dari Daulah Ottoman Turki.
Kesultanan Aceh, sebelum perang melawan Belanda, sebenarnya adalah salah satu wilayah Kesultanan Turki itu. Setelah itu Jawa dan Nusantara dijajah Belanda, Inggris dan Jepang.
Meskipun dapat dikaji seperti itu, tetapi sebaiknya cerita mitologi Jawa tentang Sabda Palon itu jangan diartikan sebagai penolakan Jawa terhadap Islam. Karena tidak ada ceritanya peradaban dan kebudayaan Jawa itu menolak masuknya paham agama macam apa pun. Malah Jawa biasanya dapat mendukung sehingga agama-agama yang masuk itu mencapai keemasannya di tanah Jawa.
Tutunan Jawa tentang penyembahan pribadi kepada Yang Maha Kuasa dibebaskan, terserah kepada pilihan masing-masing. Mau menyembah dengan cara agama apa saja tidak akan pernah disalahkan. Pokoknya, paham dasar yang harus dilaksanakan setiap manusia adalah ketika hidup bermasyarakat bergaul dengan sesama makhluk Tuhan Yang Maha Agung, jenis apa pun.
Kewajibannya, setiap orang diharuskan ikut memperindah keindahan jagad dengan cara memelihara dan melestarikan keselarasan (keharmonisan) antar sesama makhluk, dan mejauhkan diri dari perselisihan.
Cerita Sabda Palon itu apa bila benar-benar di dalami sungguh-sungguh, malah jelas menggambarkan kesalahan Prabu Brawijaya dalam mengelola kedaulatan yang digenggamnya. Sebab Prabu Brawijaya yang kaya-raya dan berkedudukan sebagai maharaja (diugung raja brana lan kuwasa) lupa melaksanakan amanah kedaulatannya dengan benar.
Ceritanya, Prabu Brawijaya terakhir memiliki selir yang banyak sekali, maka anaknya juga sangat banyak. Semua anak-anak itu lalu diberi “kedudukan” mengurus pemerintahan negara Majapahit. Oleh sebab itu, raja Majapahit lalu hilang kewibawaannya. Negara besar itu menjadi ringkih. Akhirnya ketika para Bupati Pesisir membantu Demak berperang dengan Majapahit, rakyat Majapahit tidak mau membela atau tidak ikut mempertahankannya.
Sabda Palon, sebenarnya merupakan simbul atau personifikasi kesetiaan rakyat kepada rajanya, kepada pemimpin negaranya atau kepada pemerintahnya. Sabda Palon memilih pisah dari Prabu Brawijaya, berarti rakyat sudah kehilangan kesetiaannya kepada raja Majapahit itu. Istilahnya terjadi pembangkangan publik terhadap kepemimpinan Brawijaya, tidak mau membela kerajaan ketika berperang melawan Demak dan Bupati-bupati Pesisir.
Cerita itu disamarkan dengan pernyataan, bahwa Sabda Palon akan bertapa tidur selama 500 tahun. Cerita itu juga memuat pengertian, bahwa 500 tahun setelah runtuhnya Majapahit, rakyat Jawa (Nusantara) akan tumbuh kembali kesadarannya sebagai bangsa terjajah dan akan memiliki kesetiaan kembali kepada pemimpin bangsanya. Munculnya rasa kebangsaan dan kesetiaan terhadap tanah air itu digambarkan tidak dapat dibendung seperti meletusnya Gunung Merapi
Ramalan Sabda Palon Yang Sudah Di Terjemahkan Dari Bahasa Jawa Kuno Ke Bahasa Indonesia.
Mitologi Sabda Palon Titisan Shang Hyang Bhatara Ismaya
1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda-Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.
Kira-kira dari bait dibawah inilah, kejadian meletusnya gunung merapi yang sebelumnya di sebutkan sebagai tempat bertapanya Sabda Palon di sangkut pautkan…

5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belu saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

6. Lahar tersebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda. Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

11. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

13. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

14. Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16. Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segea menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Ramalan ini bukan hal yang baru lagi namun masih menyisakan tanya dan rasa penasaran.
Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian meletusnya Gunung Merapi pada tahun 2006, dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : “Awas Merapi”.
Saat kejadian itu lahar merapi keluar bergerak ke arah “Barat Daya”. Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha).

Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 6 = 17 ( 1 + 7 = 8 ).
Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari “bumi sap pitu” dan “langit sap pitu” yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT.

Sedangkan angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).

Semoga dari apa yang telah saya bagikan, saya dapatkan dari berbagai sumber mengenai ramalan Sabda Palon ini, mudah-mudahan membawa banyak manfaat bagi kita semua, terutama hikmah yang tersirat dari wasiat-wasiat nenek moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi harapan kita bersama di tengah keadaan negeri yang morat marit ini akan datang cahaya terang di depan kita. Amin.

Senin, 13 Maret 2017

aneka



This website we create to open a transparent manner where the temple, remember this temple is for people sedarma particularly the Hindu religion wherever they are, from the moment we open to the public, especially the support from wherever the people are, because in 2017 it entered into the construction of the arrangement region Pucak Padang Dawa , please give us feedback and criticism if it is not pleasing hearts.  We try our best for us together.

Kamis, 15 Desember 2016

Purana

KALA PURANA

Awighnam Asthu!

Iti kalapurana, maka purwaka sang hyang siwa ring swarga siwaloka, kawuwusen bhatara siwa, ana putranira kalih siki laki-laki, kang panuwa sang hyang kala, kadi tapning raksasa warnanira, kang ari sang hyang pancakumara ngaranira, kari rare, apekik warnanira, sira bhatara kala duk mijil sandyawela, ri dina wrespati, pon, wara wayang. Sang hyang pancakumara duk mijil sedek prabata, ring dina, tja, kliwon, wara wayang.

Sang hyang kala matapa ring sema stananira. Ika rare sang hyang pancakumara, kari aneng swarga, iningu de yayah ira bhatara siwa. Mangke tucapa sampun aluhur sang hyang kala, wineh nugraha de hyang kasuhun kidul, wenang anadah wang, sawijil ing wara wayang, salwir ing wang lumaku tengah ngwe bener, mwang wang lumaku ring sandyawela, mangkana panugrahan ira sang hyang kasuhun kidul.

Dadi menget bhatara kala, ring kadarmanira, apan ana arinira pareng mijil ring wuku wara wayang, wenang pinaka tadahnira, apan sang hyang pancakumara aweton wuku wara wayang, ring dina, ca, kliwon. Yatika denira sang hyang kala manangkil i yayah ira bhatara guru, satekan ireng swarga, pranamya ta nembah i jeng ira bhatara siwa, mojar bhatara siwa ring sutanira; ‘duh anaku hyang kala, bage kamayangan tekan ta ring rama ya bapa, aparan prayojanan ta, dak warah ri bapan ta, manawi wonten pamidin ta ri kami.’ Ling sang hyang kala; ‘singgih doning padgata kala anak ta dating, ulun aminta tadahan ri jeng bhatara, kadi pasung ira sang hyang kasuhun kidul ri pinakang hulun, manawa wruhe jeng bhatara, aneda kang rare si pancakumara arin ing hulun, tinadah mami, apan wetunya sang aweton ring tumpek wayang, wang aweton mareng wuku wara wayang, pinaka laba mami.’ Mangkana ling sang hyang kala.

Sumawur bhatara siwa; ‘lah ya ta anaku hyang kala, kaya lingmu ri kami, hulun nugraha, mene ana pasamayang ku ri kita laki, lamakane kita amangguh ayu katekeng jemah, kita tan wenang anadah wang yang during akupak, away kita anadah antekena rumuhun.’ Mangkana ling bhatara siwa, masinggih hyang kala, manembah amwit ri pada bhatara siwa, ling bhatara; ‘rahayu tanaku yang mangkana.’

Henengakena ikang kata sakareng, watara wonten limang tahun, menget bhatara kala ri samaya, umedek muwah, ring jeng bhatara guru, muwah aminta sanake sang pancakumara. Ling bhatara; ‘ana patanggeh mami ri kita anaku, malih akajeng, antya kena denta.’ Ling sang hyang kala; ‘anak paduka bhatara anuhun, muwat amwit sang hyang kala, muwah ri wesma nira nguni.’ Ucapa bhatara siwa amecikana putranira, sang hyang pancakumara, winastwan de bhatara guru, tan wenang atuha, kewala rare juga, tucapa huwusnya sakajeng, muwah datang bhatara kala, manangkil i bhatara guru, aminta sang hyang pancakumara, mangkana ling bhatara siwa asung wacana ring putra nira; ‘kamung anaku sang pancakumara, tan urung kita mangke, tinadah de kakan ta sang hyang kala, ri tekaning dia caniscara kliwon, wayang, kunang mene ana pangupayangku, pamahayu sariranta, wenang tinular i wang ring mrecapada, katekeng delaha. Mangke ana mami rumenga wreta sajati, ana rakwa ratu lewih ring madyapada, maka ngaran prabhu mayasura, ratu jumeneng ring kretanagara, marangka kita anaku, amenda mekula kita, aminta sraya ri sira, maka pangileng urip ta, apan kakan ta hyang kala, malih tigang dina mangke, ring caniscara, kliwon, wayang, arep anadah sariranta, lah age kita tumurun mareng mercapada, angulati ratu ring Kretanagara. Neher winastwan ta sang pancakumara, astu kita anaku dirgayusa pari purna.’ Mangkana ling bhatara siwa.

Anembah amwit sang pancakumara, mintar turun ring madyapada, dumunungeng bumiu Kretanagara, jumujugeng pura nira sang prabhu mayasura, sedang tinangkil ing bahudanda nira kabeh. Ta danantara, datang sang hyang pancakumara, makidupu sumungkemi pangkwanira sang prabhu, kagyat sang nata mayasura, agya atanya ri sang wawu prapta, ling ira; ‘i aparan kita wong rare teka sumungkem i kisapwangku, saha tawan-tawan tangis, lah warahakena.’ Mojar sang rare cili, maka ngaran panca kumara, tan ana waneh don mami dating, aminta sraya angilen ri jeng maharaja, sawet ning ana kakangku sanak matuha, wineh nugraha ring sang hyang kasuhun kidul, sinung nugraha amangan wang, asing aweton wuku wara wayang, wenang tinadah de sang hyang kala, hulun aweton ring dina caniscara kliwon wayang, yatika donya nakta, prapta, aminta sraya mengilen rijeng sri naranatha, lamakane kari angesang, mangkana ling sang panca kumara. Ujar sang prabhu, uduh anakku sang panca kumara, yan mangkana, kami angilekena kita. Irika ta sang para mantri kabeh, kapwa sumungsung sadateng sang panca kumara, pada awelas ri sira. Mojar sang prabhu mayasura, duh masku sang panca kumara, away sangsaya, ingke angilen ri kadatwan mami, munkari agesang yeki si mayasura, mangke kami makon ring tanda mantri kabeh, angatag pwe kang peka yoda, prasama rabdang sanjatam kita daran maraheng dalem puri, prayoda mami mengemit kiteng yawa, tumandang i sadatang sang hyang kala, arep mami amagut kasinga wikrama ne sang hyang kala, mangkana ling ira sang prabhu, tandwa tinuntun sang panca kumara, maraheng jero kadatwan, henengakena.

Tan dwa kinon de sang prabhu, anabeh teteg agung, saha rabdang sanjata, kinon angider i puri sang prabhu, kinon amagut satekan ira sang hyang kala. Amangke sampun ira sang panca kumara, angilen ring kadatwan ira sang prabhu mayasura.

Tucapa muwah bhatara kala, apan teka samaya sangketa nira nguni, ri tekaning dina, caniscara, kliwon, wayang, lumaris sang hyang kala, manangkil i bhatara guru, umungwakena waneng sangketa nira nguni. Ling bhatara siwa, lah menget kami sobayang ku kita laki, mangke kami asung nugraha, kaya pamuhun ta ri kami, anadah sang panca kumara, lah ruruhen den ta, apan yan uminggat sangkeng swarga, Manawa turun mareng mrecapada, irika baksan ta, apan aramih ana ring swarga, yan kita ingke amangan wang, mangkana ling bhatara guru. Dadya amisinggih sang hyang kala anembah amwit ri jeng bhatara guru.

Tucapa ri lampah sang hyang kala, tumurun mare mrecapada, irika bhatara guru, mangen angen kahaywan i putranira, amastu denya amanggih kadirgayusa.

Tucapa ri datang sang hyang kala aneng madyaloka, kahambung-hambung ne sang panca kumara, apan anang wijayamala, mara wonten ing bhumi Kretanagara, jumujug sira ng kana, kapanggih punang wong pada sregep anengen sanjata, wawang hyang kala matanya rikang wang agelar kabeh, boh kamung manusa kabeh, angapa don ta amanguna gelar, sangkep ing wara yuda, saha busana ning aperang, sang apa satrun ta warahen ta ku de mu kabeh, lamakane ngong weruha, mangkana patanya sang hyang kala. Mojar sang tinakwanan, kami kinon de sri maharaja, manglagana kamung kala, kinon amejahana kamung, dosanta anadah wang. Sumahur sang hyang kala, langgah ujarmu kamung manusa, wehana sang panca kumara, mula tatadahan ingong, agawe paran gumegeti sang panca kumara, mula baksana ning ngong, yan tan sawehan mu, masa kamung huripa den i ngong, sawur manuk kang prayoda kabeh, ah tan paweh nghulun, irika kroda sang hyang kala, pinupuh tang para yoda kabeh, rinebut sang hyang kala, dening prajurit eng Kretanagara, tan pangrat sengit sang hyang kala tiniban wara sanjata, malayu wadwa kabeh, sesaning mati, akweh atawankanin, rinujak de sang hyang kala, tan ana wani mulat ngaranya, ana umaturi sang prabhu, ryalah tang pekayoda, aperang lawan sang hyang kala, irika sang prabhu mahasura, gelis mantuk sakeng watangan, marahe dalem puri, mawuwus i sang panca kumara, kinen angilen sakahyun ira, mojaraken wadwa nira sampun alah, muwah ling sang prabhu, ri sang panca kumara, ndah mangke nghulun mamwat pejah, tumangguh i kita, tumandang i pamuk sang hyang kala, muliheng wiraloka. Mangkana pawekas sang prabhu mayasura, tucapa sang prabhu, atanding kadiran kamawan sang hyang kala, njorok jinorok, yan pira kunang swenira yuda, pejah sang prabhu tan pasara. Annuli angranjing sang hyang kala ri jero ning kadatwan, rinuru sang panca kumara, masowe nora kapangguh, dadi inambung de bhatara kala, wijayamala nira, cihna ni dewata, huryan i sampun mijil sang panca kumara, binuru nira muwah, dadi kapanggih ring marga agung, atawan tangis sumambe bhatara, tan dwa sinikep de bhatara kala, neher anela, tan katakana.

Tucapa bhatara siwa, rumenga pasambat I putra nira, sigra tumurun paren lawan bhatari sri, anglinggih I lembu lanang sweta warna, mijil saking ambara, irika bhatara guru, amastu sang hyang kala, umutah, lingira astu sang hyang kala umutah, dumaleg sang hyang kala, dadi mijil sang hyang panca kumara, malayu tan pamput-amputan, ilang tan pajamuga, kapanggih bhatara siwa akalihan lawan bhatari sri, anitihi lembu lanang sweta warna, lumaku tengah ngwe bener, kamantyan kroda nira sang hyang kala, arep anadah bapa ibu nira, umangang tutuknya kadi singha rodra, annuli mojar bhatara siwa, lingnira, ih aja kita anadah bapa ibunta. Ujar sang hyang kala, dah salah lampah bapa ibungku, asing wang lumaku-laku masa tengah ngwe bener, wenang tinadah mami, mangkana ling sang hyang kala. Mawuwus bhatara siwa, lah ya wenang kaya ling ta, nanghing yan kena den ta njepani cacangkriman mami, mangke bapanta ngawistarakena, yan kena denta, tadah bapa ibun ta, teka ning lembu ning hulun. Misinggih sang hyang kala, ling bhatara siwa, slokha;

Astapada sasti karno
Dwi srennggi sapta locanam
Catur buja trinabinca
Eka baga dwi purusah.

Maswe bhatara kala, umangen-angen lwir ing sapta locana, tan wruhnya ri soca ning kalpika kara sanunggal, lyan sangke rika, kena de nira anjepani tan dwa swe pitungka sang hyang kala, lawan bhatara siwa, anjapani cacangkriman sang bapa, yan amesem ri dalem ati swacita bhatara bhatari, ri kemengan sang hyang kala. Tan dumade, sayan lumingsir palaku sang hyang, wande bhatara kala manadah bhatara bhatari, apan ya alah acacangkriman de bhatara siwa, mur bhatara bhatari mulih eng siwapada muwah.

Tucapa bhatara kala, muwah inambung gandane, wijayamala hira sang panca kumara, binuru nira muwah, dadi ana wang anlesang lalang ring nadi, kari mabanda kalih, katon sang panca kumara, sumurup ri tengah ing alalang, tan dwa sinambut ikang alalang, linukar de nira, humesang sang panca kumara muwah ring doh, krodha bhatara kala, winastwan ikang wang aneles i alalang atali kalih, ujare, syapa jwa ngenceba alalang matali dwa, nora nuculan talinya lagi manunggal, astu wang mangkana mene katekeng jemah, tan pawali dadi janma muwah. I telah mangkana, muwah binuru sang panca kumara, katon angepep ri sor ing kalumpu, ri sornya, ana indan aking, sahang ikapinesel tan inuculan talinya, irika sumurup sang panca kumara annuli ginogo de bhatara kala, dadi meleca sang panca kumara, muwah malayu mareng doh, krodha sang hyang kala, tur amastu. Nyen jwa ngedang sahang boten jinenge, twara mbusana taline, astu tan dadi janma mwah.

Muwah kaburu sang panca kumara katon sumurup ri cangkem ing standila, muwah ginogo de bhatara kala, dadi meleca karirun, apan nora tinutupan rirunya, krodha bhatara kala, tur amastu. Nyen jwa mapunpun twara ngempetin rirune, wastu tan pandadi janma muwaah.

Mangke tucapa sampun sandekala, nora kapanggih sang panca kumara, binuru de nira. Dadi ana kapanggih, wang matukar lawan sanaknya, neher binaksa de sang hyang kala, tur winastu kang rat, syapa juga ingkang wang, marebat masa sandekala, wenang ya tinadah de ningong, mangkana tantu bhatara kala, muwah rinuruh sang panca kumara katekan ratri masa ning tengah wengi, ana wang dalang angwayang, nemonin wuku tumpek wayang, sang anama enpu leger ngwayang, sampun angarepakena wayang, saha juru redepnya, wus tinabeh, swara nira manis arum. Kancit datang bhatara kala, amuru sang panca kumara, anangis sang panca kumara, amelas arsa, ngasraya minta urip, les sumungkem ri pangkwaning sang dalang, dadi kagyat empu leger, tur angeling, duh syapa dewa kumureb ring kisapwan kune, ling sang tinanyan, hulun mangaran sang panca kumara, anakira bhatara guru, aminta urip ri sang pangempwan, nghulun maya tinadah de kaka ning hulun bhatara kala, sinung nugraha ri sang hyang kasuhun kidul, salwir ing wang aweton ri wuku wara wayang, hulun metu ring dina caniscara, kliwon, wara wayang, ya tika pangasraya mami ri sang pangempwan, angeling empu leger, duh masku awelas aku ri kita, hulun mangilwanen kita, sinambat sang panca kumara, sinurupaken ring lyang ing pring palawah ing redep, redep nga; gender. Tan kocapa empu leger muwah ngwayang, anutugaken palakwaning carite nguni. Sedeng ramya nikang wayang, jag dateng sang hyang kala, jumujug mareng banten, dahat lapa wlekang, tan dwa binaksa salanlaning babangkit kabeh, enti tanpasesa de nira, widi widana ning ngwayang, dadi katawurag sang angwidu, mwang juruning mradangga, teka ning wong anonton, pada andulu warna nira sang hyang kala, kadi trap ning raksasa ngawatara, ireng warnanya, bang rambutnya, muriring awrut-awrutan, socanya lwir teja ning wintang tumambaga, ageng aluhur pangadegnya, amaya-maya jati sira. Mojar mpu leger, agawe paran paduka bhatara kala, jag umangan pabanten ingsun, nguniweh during huwusan manira angwayang, ring endi mami ngamet widi-widana muwah, ling bhatara kala, wehen tadahan mami sang panca kumara, apan kita umungupaken ringke, ya do ning hulun umangan pabanten ta, kamu wong dala salah, sawur empu leger, ndiana wong maweh, yan during ana paminta, satrunta sang panca kumara ngasrayeng urip ri kami, yan ana paminta ta rumuhun, wenang kami paweh tan paweh, apan during ana pamintanta ri kami, jag baksa pabanten ing nghulun, bhatara kala salah, yan suluhin ring dharmasastra, pamutus ira batara manunguni, pasilihan pabantening hulun mangke, bhatara kala kahehan de ning hulun, kang abecik mangke, paduka bhatara asung nugraha ri pinaka nghulun, pakena ning jagat kabeh, denya wruha, pasampriti ning hulun kalawan kita, mene purwakanya, wang anawur hutang ri kita, salamlam ing pabangkit den agenep, salwir ing wang aweton ring wuku wara wayang, marya kita manadah iriya, yan Tanya manawur hutang ri kita, sakahyun ta bhatara kala, maka mimita, sanak ta sang panca kumara, kasampurna de bhatara kala, kawruhana de ning wang kabeh, unggwaken ring rerepi nugraha ta ri nghulun, kawruhana de ning wang kabeh teka delaha, wedaran ku sanakta sang panca kumara, away suma, winetwaken sang panca kumara de empu leger.

Irika somya wat ira bhatara kala, suka ambaksa sang panca kumara, sampun karena sojar ira empu leger, sangke jerone talawah, wenang maka pakretining jagat, masiheng salira nira, mur sang panca kumara mantukeng swargaloka, kari empu leger angucap-ucap lawan bhatara kala, duh bapa empu wong amangku dalang, wadu ngaran ta waneh, kawruhana de ning wang, kasuguhan ta amangku dalang ngaranta, kreta nuraga ki ring rat, maha budhi metri karuna swabhawanta ri rat kabeh, maka purwaka sakak mami, sampritan ta ri nghulun, masinggih mami sawuwusta, pagehakena kita amangku dharma pawayangan. Nityasa mengeta kita ri kami, wenang kita nibaken panglukatan ira empu leger katekeng jemah, iri pangabantenya nimitanya kadi dangu.

Iti pabanten panglukatan mpu leger, lwirnya; angadekakena sanggar tutuan, munggah suci 2, soroh, genep salamlam ing banten suci kadi dangu, ring sornya, pabangkit asoroh, genep saruntutan ing pabangkit kadi dangu, ma arta 4500. muwah caru sor ning sanggar tutuan, sata manca warna, olah anut urip kadi dangu, walulangnya laying-layang, seganya anut urip amanca desa. Malih banten penebasan sang aweton, angadekaken lahapan mabucu tiga, munggah suci asoroh genep, maulam itik mabe tutu genep salamlam ing suci kadi dangu, sasalah arta 1700, muwah bantene ri sornya, penek putih 5, iwaknya sata putih winangun urip. Muwah sanggah cukcuk 2, genahang ring tangun-tangun kelire, malamak magantung-gantungan, munggah banten tumpeng pada madanan, kembang pahyas, lenga wangi burat wangi, sarnanya sakabwatan.

Muwah banten sang mangawayang, suci 1, saruntutan ipun genep kadi dangu, iwaknya itik mabe tutu, saha pula gembal, masekar taman, pajegan 1, canang pangkon, daksina sarwa 4, m arta 500, peras panjeneng, segehan agung. Wadah tirta panglukatan sang empu leger, sangku suda-mala, matatakan beras, benang, arta 225, mwang sekar mawarna 11 warna, mwang rwi-rwi, samsam bija kuning, telas.

Tucapa mangke bhatara kala, agendu rasa, kalawan empu leger. Ling empu leger, pukulun paduka bhatara kala, mangke yatika bantene anggen manira, panyampurna krodha bhatara ri anten ta, sang anama sang hyang panca kumara, pinaka panyuda mala geleng bhatara, muwah teka ring delaha, yan ana rare metu ring wuku wara wayang, yan tan ana waline, banten pamukum jiwa ri bhatara, mawali dening panglukatan empu leger, yan tan mangkana, mangka wenang hyun bhatara, anibani danda, anggeringi adyapi tinadah de bhatara, akahyun ta wenang, anangkaleni, winastun ta, tan pandadi janma muwah, atmanya dadi byu kahikik, tumuwuh tengah ing alas. Kunang wange yan sampun malukat ring wayang, de ning panglukatan empu leger, away bhatara anangkaleni, mwang anadah, mangkana basamane empu leger ri jeng bhatara kala.

Masinggih bhatara kala, mojar bhatara kala muwah, lah ya empu dalang, I wruha pwa kita, yan ana wang malaku tengah ngwe bener, lumasa sandekala, lungha masa ning tengah wengi, ika wenang ngong anadah, pinaka bela ning hulun, panugraha nira hyang kasuhun kidul, mangkana ling bhatara kala, mawuwus empu dalang, sakaharep de bhatara pukulun. Telas mangkana nubaya hitan ira sang rwa, mur bhatara kala, mulih ing stana nira nguni, empu leger huwus angringgit, wong kabeh pada mulih kuwu nira sowang-sowang. Telas. Iti kalapurana.
Dipun pethik saking bundel lontar kagunganipun Bapak Wongso Bojro